26/07/2020

Pertemuan lima menit itu sama sekali tidak cukup untuk membayar waktu empat bulan yang aku lewati sendirian. Padahal langkah-langkah kemarin terasa baik-baik saja. Namun saat rindu meminta lebih, rasanya diri ini menjadi pamrih. Bukan sekali dua kali aku berusaha meredam ego untuk tidak memintamu kembali. Meskipun gagal sudah jadi teman. Aku tetap tidak bisa jika tidak memintamu pulang.
 
Jika aku sebatang pohon buah, aku akan menjadi tanaman yang paling egois. Tidak ada seorang pun yang boleh mengambil buahku. Aku akan lebih ikhlas jika ia jatuh dan membusuk, kemudian menjadi pupuk dan membuatku berbuah lagi. Jelasnya, aku tidak mau merelakan milikku untuk orang lain lagi.

Satu kesalahan yang membuatku memanen banyak ujian sekaligus cobaan. Hanya satu kesalahan yang dulu aku pikir akan memperbaiki masa depan. Tapi ternyata aku mendatangkan penderitaan dan akhirnya memusnahkan kebahagiaan.

Aku benci menjadi naif. Aku benci karena telah mengorbankan banyak hal dan menggadaikan semua harapan. Sekarang hanya rasa takut yang tertinggal. Rasa takut yang membelengguku sendirian. Padahal semuanya sudah aku serahkan. Kapan kebebasan bisa menyapaku lagi?

Dan wajah itu, raut masam yang memanggil kembali semua trauma yang aku berusaha kubur dalam-dalam. Segala bayang depresi dan frustasi berseliweran dalam pikiran. Bukan sebentar bagiku untuk perlahan merelakan kepedihan. Bukan perkara mudah bagiku untuk menerima keadaan yang dipaksakan. Rasanya sulit sekali untuk jadi waras kala itu. Pelarian yang memberiku harapan untuk sembuh sudah aku lakukan demi menyelamatkan diriku sendiri dari celaka. Aku mengasingkan diri, bahkan sampai aku merasa asing. Semuanya hening, hanya ada aku dan bayanganku. Kemudian Tuhanku datang dan memberi peringatan.

Aku hebat karena mampu melewati titik itu. Tuhanku tidak memberikan ujian melampaui batas kemampuan umat-Nya. Semakin berat maka kamu semakin kuat. Kini aku kembali mengadu pada Rabb-ku untuk memintamu pulang. Ini jalan terbaik untuk memaknai kehidupan dan jalan terlapang untuk mewujudkan banyak harapan, karena sudah terlalu banyak air mata yang aku jatuhkan.

Komentar

Postingan Populer