Cerpen Remaja: BERTAHAN UNTUK KEMUDIAN GUGUR (Cinta Tak Harus Memiliki) karya: Annisa Rizkyta Hasibuan
Udara dingin kota Bandung di pagi hari mulai menyelinap ke selimut tebalku. Disusul suara ibu yang bilang, "bangun Ca. Udah jam delapan" yang membuatku lari terbirit-birit ke kamar mandi dan kemudian melihat jam dinding yang ternyata menunjuk ke angka enam. Sudahlah, pagi ini ospek pertamaku. Aku harus sudah sampai di kampus jam tujuh, tidak boleh lebih tapi kalau kurang malah bagus, biar aku bisa keliling kampus dulu untuk beradaptasi dengan tempat baruku.
Aku masih Maudy Annisa yang dulu, yang kurang suka dengan angka. Hingga takdir membawaku ke sini, Fakultas Hubungan Internasional UNPAD seperti yang aku impikan. Aku berkompetisi dengan peserta SBMPTN yang lain demi berebut tahta "Mahasiswa HI UNPAD". Lucu memang, mengingat aku adalah anak MIPA yang jiwanya lebih condong ke sosial. Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakanku, inilah buktinya.
Pacarku Rian memilih untuk masuk Fakultas Arsitektur di ITB. Katanya dia mau buat Taj Mahal, tapi dengan versinya. Kelak kalau sudah jadi, namanya bukan Taj Mahal, tapi 'Tak Mahal' alias murah, hahaha. Terserah dia mau apa, asal dia bahagia. Kalau dia bahagia, maka akupun juga. Sekarang kami beda kampus, tapi kami masih orang yang sama dengan perasaan yang sama juga: saling mencintai dan menghargai. Menjalin hubungan selama hampir tiga tahun itu tidak mudah, banyak ujiannya. Tapi kita berusaha melewatinya dengan saling percaya. Aku sayang dia, dan aku yakin diapun begitu.
Drama kampuspun dimulai. Inilah ospek yang aku malas hadapi, tapi harus dijalani. Doakan aku kuat dan betah.
"Kamu ngapain bengong? Cepet baris, bikin banjar baru! Lelaki didepan!" kata salah satu senior dengan nada agak tinggi ke arahku. Aku kaget dan bingung, masih pagi sudah emosi aja. Hati-hati nanti cepat tua.
"Permisi, saya mau ke depan." ucap seorang laki-laki sambil memegang bahuku. Deg, aku tidak salah lihat. Itu Fahmi, teman sekelasku waktu kelas XI. Dia juga kelihatan terkejut, tapi tidak sempat ngobrol, takut dimarahi senior.
Semenjak pacaran dengan Rian, aku mulai melupakan Fahmi. Kamu harus tahu, sebelum aku jadian sama Rian, aku pernah suka sama Fahmi, tapi ingat kalau itu dulu. Bagiku dia hanya sebatas sasaran yang salah untuk aku sukai. Aku suka, sayang, dan cinta sama Rian saja, sama dia tidak, titik. Tapi pikiranku melayang ke masa laluku yang aku nilai sangat bodoh. Yaitu masa dimana aku selalu memandangi Fahmi dari jauh, waktu dimana ia selalu menjadi bahan curhatanku ke Dianty (teman SMA-ku dulu, sekarang dia kuliah di Yogyakarta). Tapi kemudian aku sadar dia tidak melirikku sama sekali. Dan kamu tahulah, kemudian aku jadian sama Rian.
Ospek berakhir jam empat sore, lelah rasanya. Pengang telingaku mendengar ocehan senior yang tak jelas. Yang kalau berbicara selalu dengan nada tinggi, mungkin mereka penyanyi sopran dan tenor, wallahu alam. Aku duduk di bangku yang dinaungi pohon besar, menunggu pujaan hatiku datang menjemput. Memang agak jauh, tapi ini hari pertama aku ikut ospek. Katanya, penting baginya untuk mendengar apa yang aku lakukan seharian ini. Tapi tiba-tiba ada seseorang duduk di hadapanku, dia adalah Fahmi.
"Hey, ngapain sendiri?" tanyanya.
"Eh, ini lagi nunggu dijemput." jawabku.
"Dijemput Rian?"
"Iya.."
"Awet ya kalian."
"Alhamdulillah iya. Kalau kamu sama Diana?"
"Udah enggak, setahun aja gak nyampe."
"Oh."
Lalu Rian datang dengan motornya. Menyadari keberadaan Fahmi di dekatku, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Namun kemudian dia menyapanya, "Eh Mi, sehat? Di UNPAD juga kaya Ica?"
"Alhamdulillah sehat, iya aku masuk fikom. Kamu dimana?"
"ITB, arsitektur."
"Mantap, Ri."
"Yaudah, duluan ya. Ayo Ca!"
"Duluan ya, Mi." kataku ke Fahmi lalu naik motor Rian dan meninggalkannya sendiri.
"Kamu gak apa-apa, kan? Dia tiba-tiba aja duduk di depan aku. Aku juga kaget." jelasku pada cintaku, Rian.
"Gak apa-apa. Aku percaya kamu, dia kan teman kita juga."
"Iya, you trusted me, thank you."
"Because I love you."
Dia Rianku, pengertian dan perhatian. Dia orang langka, paket komplit, cuma aku yang punya. Kami selalu memiliki obrolan tidak bermutu namun menyehatkan bagi hubungan kami. Waktu aku sakit, dia pernah bilang, "di rumahku ada hantu yang suka nangkap orang yang susah minum obat."
"Oh ya?" jawabku pura-pura percaya.
"Iya beneran. Kalau kamu susah minum obat, nanti hantunya aku toplesin terus dibawa kesini."
"Jangan, aku takut. Aku mau minum obat tapi disuapin sama Iqbaal Ramadhan.." kataku merengek, Iqbaal Ramadhan adalah aktor dan penyanyi remaja yang lagi melejit atau naik daun kala itu.
"Yaudah nanti aku telepon dia. Nanti aku bilang kalau pacarku mau disuapin dia."
"Ehehe, emang bisa?"
"Bisa dong, tapi akunya tidur dulu."
"Itu mah dalam mimpi namanya."
Dia ketawa, aku enggak (tapi aslinya pengen ketawa).
Sesampainya di rumahku, Rian langsung pulang. Takut kemaleman, katanya kasihan aku lagi capek harus istirahat. Terimakasih ojek kesayanganku, sudah antar aku pulang. Hati-hati di jalan, takutnya ada yang nyulik terus di awetin jadi patung, habisnya dia lucu.
Malamnya, setelah aku mandi, makan, dan sholat, aku hanya berbaring di kasurku sambil chatting-an sama Rian lewat handphone. Tapi pikiranku masih bingung atas kejadian tadi, kenapa bisa Fahmi ada lagi di kehidupanku. Jangan rusak film-ku, kamu tidak ada dalam skenario, Mi. Saat sedang kesal seperti itu, Rian menelponku, aku senang.
"Hai Cai.." sapanya membalikkan namaku.
"Cai mah disumur, ini Ica. Salah orang, Pak." kataku meladeninya.
"Oh, kalau gitu tolong cemplungin hpnya ke sumur."
"Eh, enak aja."
"Ha ha ha."
"Ketawa lagi."
"Eh tau gak tadi aku nangkep lalat dua, cewe semua."
"Terus?"
"Aku kasih nama Ica sama Ody."
"Aku lalat dong?"
"Biarin, biar bisa temenin aku tidur.."
"Ha ha ha."
Rian selalu bisa mencairkan suasana. Ia selalu bisa melunakkan hatiku dan meredamkan emosiku. Terimakasih sudah mau ke aku.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang tidak begitu menyenangkan. Aku dan Rian jarang bertemu, karena kami disibukkan oleh kegiatan kuliah kami masing-masing. Enam bulan, delapan bulan kami jalani dengan minat yang sama: tetap ingin saling memiliki. Kami bertemu hanya di hari minggu, atau di hari kerjapun bisa, jika ada kepentingan mendesak. Seperti waktu hari rabu, entah kapan, yang aku ingat itu hari rabu. Dia menelponku dan bilang ingin bertemu katanya penting sekali. Dia juga sudah ada di sekitaran daerah kampusku. Ketika dia datang, dia seperti orang yang habis lari maraton. Ia terengah-engah, lalu aku tanya, "kenapa? Ada apa, Ri?"
"Aku gak kuat, rindu..." lalu dia ketawa
"Eh jauh-jauh kesini buat ngomong itu?"
"Hehe enggak. Aku kesini sebenernya ada perlu ke Om Herry, rumahnya deket sini. Jadi aku samperin kamu. Tapi aku beneran rindu."
"Ooh, kirain. Ha ha kamu bisa aja. Apa kabar Om Herry-mu?"
"Baik dia, tadi aku nganterin titipan Mama buat dia. Buat kamu juga ada."
"Apa?"
"Nih, Mama bikin brownies kesukaanmu. Dia kangen kamu, udah lama gak main ke rumah." katanya sambil memberiku brownies titipan Mama-nya.
"Baunya wangi, makasih. Aku juga kangen Mama-mu, sampein salam rindu dari anak gadisnya ya." maksudnya dari aku, karena anak Mama-nya Rian dua-duanya laki-laki.
"Iya nanti aku bilangin, aku langsung ya. Anak shaleha gak boleh nakal ya.. Janji?"
"Siap, janji boss!"
Rianpun berlalu bersama motor kesayangannya. Aku pergi ke taman di sekitar kampus untuk menikmati kue buatan camerku, hehe.
Sejak kuliah, aku lebih suka sendiri. Menghabiskan waktu dengan kehidupan yang mandiri. Dulu aku sangat dekat dengan Dianty. Aku pergi kemanapun dia pergi, begitu juga sebaliknya. Hingga kini, tak ada yang sebaik Dianty. Dia sahabatku, selamanya akan tetap begitu.
Baru makan suapan pertama, Fahmi datang dan duduk di sampingku. Aku duduk di rerumputan yang nyaman dan terawat hingga dia bebas mengatur jarak untuk duduk di dekatku, termasuk dengan jarak yang sangat dekat.
"Hey, lagi makan apa?" tanyanya. sore itu aku sedang tidak ada kelas.
"Lagi makan brownies, mau?" aku tawari dia.
"Mau lah.." jawabnya sambil mengambil alih sendok dari tanganku dan mulai memakan brownies itu.
"Ini dari Rian, dia datang tadi."
"Oh. Kalian masih?"
"Maksudnya?"
"Iya aku jarang liat kalian sama-sama. Jadi aku kira.."
"Masih lah, kita baik-baik aja. Malah semakin hari semakin baik."
"Oh, syukur deh."
Aku tidak suka dengan apa yang Fahmi bicarakan. Aku risih dengan keberadaannya yang seolah tidak bisa menjaga jarak denganku, menyebalkan.
Di hari-hari berikutnya, aku jadi sering bertemu Fahmi. Aku rasa dia sengaja untuk tahu keberadaanku, tapi itu hanya perasaanku, semoga sebenarnya tidak begitu. Tapi kalau iya, aku siap untuk jaga jarak dengannya. Di beberapa kesempatan, ia mengajakku makan bareng di kantin atau memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan dengan alasan ia tidak tahu mana buku yang cocok dan bagus dengan apa yang ia butuhkan. Terdengar berlebihan, tapi itu yang ia lakukan dan katakan.
Semakin hari, ku kira aku sudah tidak canggung lagi kepada Fahmi. Dia temanku sekarang. Keberadaannya membuat aku sadar bahwa aku butuh teman. Tapi kalian jangan salah sangka, kita teman, itu kenyataannya. Karena aku sangat mencintai Rian, tidak ada niatku untuk berpaling darinya. Bayangkan, kami bersama selama tiga tahun lebih tanpa rasa bosan. Bahkan kalau dihitung, aku bertengkar dengan Rian tidak lebih dari tiga kali. Dia penyabar sekali, aku api dan dia airnya.
Tapi kini aku sedih, sebulan belakangan ini Rian jarang menghubungiku. Padahal kami akan melewati tahun ke-empat kami berpacaran sejak SMA. Pernah sekali waktu, ia tidak menghubungiku selama tiga hari. Dan di hari ke-empat, ia menelponku dan meminta maaf karena katanya dia ikut Mama-nya ke luar kota dan disana tidak ada sinyal, kemudian aku maafkan. Tapi Rian semakin sibuk, bahkan di hari minggupun aku tidak bisa bertemu dengannya. Kita hanya bertatap muka lewat video call, bahkan saat dia di rumah sakit. Katanya dia sedang menjenguk sepupunya yang sakit. Semoga Rian baik-baik saja, aku percaya dia karena diapun begitu.
Sekarang hanya ada Fahmi, yang siap mengantarku ke mana saja. Tapi aku memintanya hanya dalam keadaan mendesak. Dia tak pernah lagi menanyakan kabar Rian, atau mungkin mereka sering berkomunikasi? Entahlah. Aku rasa Fahmi semakin dekat denganku. Dia kini menjadi incaran teman-teman mahasiswi, tapi dia tidak pernah cerita padaku dia sedang dekat dengan siapa. Hingga akupun memberanikan diri untuk bertanya.
"Lagi deket sama siapa sekarang, Mi?"
"Sama kamu, hehehe."
"Serius aku, noh mereka sampe pada ngantri gitu.."
"Aku lagi deketin cewe nih, tapi bingung."
"Lah? Bingung kenapa?"
"Dianya udah punya pacar, Ca. Tapi gak apa-apa, aku nunggu aja. Jodoh mah gak kemana.."
"Kaya gak ada cewe lain aja. Kamu tinggal pilih tuh mau yang mana, kan banyak yang mau ke kamu."
"Kalau akunya gak mau gimana, aku mau sama dia doang. Sekalian jaga amanah."
"Oh yaudah, itu urusanmu."
Dan kemudian aku merasa tidak perlu ikut campur urusannya, karena aku tidak punya hak atas dirinya.
Hmmm, hari begitu cepat berlalu hingga aku merasa hubunganku dengan Rian semakin merenggang. Ia semakin jarang menghubungiku, aku terakhir bertemu dengan-nya dua setengah bulan lalu. Itu menyebalkan, seperti ada yang berbeda darinya. Dia seperti menjauh, salahku apa? Ketika aku menghubunginya kemarin sore, ia berbicara dengan nada yang lurus dan seperti tak berenergi, dia dingin padaku.
Hal yang tidak pernah ku dugapun terjadi. Saat ada kelas pagi, Fahmi datang ke kelasku dan meminta izin pada dosen untuk berbicara padaku, katanya penting. Dengan raut sedih ia berkata, "Rian, Ca.."
"Rian kenapa?"
"Rian meninggal.."
Jantungku berhenti berdetak, otomatis darahku berhenti mengalir. Selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, sampai aku bangun di kamar UKS kampus. Ya, sepertinya aku pingsan. Setelah sadar, aku langsung bertanya tentang Rian. Terlihat ada Fahmi di sebelahku.
"Rian, Mi.." kataku sambil menangis.
"Sabar Ca. Kalau kamu udah enakan, kita ke rumah sakit ya." jawabnya lalu memelukku dan aku spontan memeluknya balik. Aku tahu itu tidak seharusnya terjadi, tapi aku sedang kacau kala itu.
Kami bergegas ke rumah sakit tempat Rian dirawat dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Ternyata aku baru tahu dari Mama-nya bahwa dia sudah dirawat dua bulan. Dia mengidap leukimia, persis seperti apa yang Ayahnya derita dahulu hingga ia menjadi seorang yatim saat dia kelas 6 SD. Dan hidupnya terus berlanjut.
Kenapa Rian tidak pernah bilang? Aku bisa merawatnya, aku siap merawatnya, Rianku sayang. Ternyata, selama ini ia berjuang melawan kanker sendirian, tanpa ingin aku tahu dan kemudian sedih. Tapi aku pacarnya, empat tahun kita lewati suka dan duka. Dia diaryku dan aku diarynya. Dia guruku, darinya aku mengerti bagaimana cara menghargai orang lain. Darinya aku belajar bagaimana cara bersikap jujur pada diriku sendiri dan orang sekitar. Dan darinya aku tahu bagaimana cara berdamai dengan diriku sendiri yang sedang menentang dunia.
Kini aku tahu, dia jarang menghubungiku karena sedang menjalani kemoterapi, demi bertahan untuk bisa melihat dunia dan aku. Video call yang waktu itu dia di rumah sakit, sepertinya dia berbohong karena sebenarnya dia yang sakit, bukan sepupunya. Rianku yang malang, kamu melewatinya sendiri, tanpa aku.
Mama Rian datang menghampiriku yang duduk termenung sambil ditemani air mata. Dia meminjam handphoneku, kemudian aku tahu dia mengirimkan sebuah video. Dia terlihat begitu tegar. Saat kubuka, ternyata di dalam video itu ada Rian yang terbaring di kasur rumah sakit menggunakan selang oksigen dan beberapa peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Dengan suara rendah ia bilang, "Hai, Cai.. Eh maksudku Ica. Apa kabarmu sayang? Kamu baik-baik ya disana. Maaf aku membuatmu cemas bahkan kesal karena jarang menghubungimu. Ini yang terjadi padaku, aku terima dan kamupun harus begitu. Aku sayang kamu, aku tidak mau kamu khawatir. Aku tidak mau kamu sedih. Kalau kamu melihat video ini, berarti aku udah gak ada di bumi, karena aku pindah untuk menetap di hatimu selamanya. Kamu sayang aku kan? Jaga dirimu ya, aku titipin kamu ke Fahmi. Dia juga sayang kamu, kaya aku. Dia lebih bisa menjaga kamu. Dia selalu ada buat kamu, gak kaya aku. Maaf, Ica. Aku gak bisa bertahan buat kamu. Kayanya perjuangan aku sampe disini. Kayanya Tuhan mau aku nyusul Ayah, aku kangen kamu, tapi aku juga kangen Ayah. Aku sayang kamu, titip Bunda ya. Kalau Bang Rizky (kakaknya Rian) gak usah, dia udah gede, hehe. Dadah, I love you."
Air mata semakin deras keluar dari mataku, aku tak pernah sehancur ini. Apa yang dia maksud dengan menitipkanku ke Fahmi? Aku mau kamu, Rian.
"Maaf, Ca. Aku tau Rian sakit, tapi aku gak boleh bilang sama kamu."
"Iya aku ngerti, dia gak mau aku sedih."
Setelah dimandikan, jenazahnya dibawa ke rumah duka, lalu ia disholatkan dan siap untuk dimakamkan. Rianku, ini hari terakhirmu berpijak di bumi, selanjutnya kamu akan bersemayam di dalam bumi. Hatiku ikut pergi bersamaan dengan kepergianmu. Tuhan terlalu menyayangimu, hingga Dia memintamu pulang lebih dulu. Air mataku ikut terkubur bersama ragamu.
"Ikhlaskan, Ca. Biar dia senang. Kamu harus melanjutkan kehidupanmu." Kata Mama-nya sambil merangkul bahuku.
"Iya, Ma. Aku sayang Rian, aku mau dia senang. Sekarang dia udah gak sakit lagi, aku akan belajar ikhlas, buat dia." jawabku lirih.
Pemakaman selesai, aku pulang, dan mengunci diri di dalam kamar.
Empat tahun yang penuh kenangan tidak bisa dilupakan begitu saja. Dia cinta terindahku, namun dia pergi lebih dulu, dan itu sangat menyakitkan. Impian kami untuk menikah setelah lulus S1 kini hanya menjadi angan. Ia dan cintanya sudah abadi, aku belum. Tapi benar kata Mama Rian, aku harus melanjutkan hidupku, meski dalam bayang-bayang Rian, orang yang sangat aku cintai dan hargai. Tidak akan ada lagi kekonyolannya, obrolan anehnya, sapaan cai-nya, canda tawanya, dan raganya. Selamat jalan cintaku, tunggu aku menyusulmu. Mungkin kita belum berjodoh, tapi hatiku adalah tetap milikmu. Aku sayang kamu.


Komentar
Posting Komentar